Kalau agama benar-benar diperuntukkan untuk manusia yang mau berpikir, seharusnya kita tidak diminta percaya begitu saja pada hal-hal yang sulit diterima akal. Misalnya cerita tentang Muhamad yang membelah bulan, atau perjalanan Muhamad ke langit dalam waktu singkat untuk bernegosiasi soal ibadah. Bagi manusia waras, hal-hal seperti itu terasa tidak logis dan di luar nalar manusia.
Belum lagi janji-janji setelah mati yang juga sering terasa aneh kalau dipikir pakai logika. Ada gambaran tentang kenikmatan seks, mendapatkan banyak pasangan bidadari perawan hanya karena mati dalam kondisi tertentu, misalnya saat perang. Hal-hal seperti ini bagi sebagian orang terlihat seperti iming-iming yang lebih menyerupai fantasi daripada sesuatu yang bisa dipahami secara masuk akal.
Dari sini muncul pertanyaan besar: apakah jadi muslim harus menutup akal sehat? Banyak orang tetap percaya karena iman, tapi tidak sedikit juga yang mulai mempertanyakan hal-hal seperti ini seperti saya sekarang.
Masalahnya, ketika seseorang terlalu bergantung pada keyakinan tanpa mau berpikir lebih dalam, sering muncul sikap sempit.
Misalnya ada muslim yang mudah membenci kelompok lain tanpa benar-benar mengenal mereka, hanya karena diajarkan begitu. Di sinilah yang sering disebut sebagai “iman buta”, yaitu percaya tanpa mau memahami.
Padahal manusia punya akal untuk digunakan. Dengan akal itu, kita bisa belajar memahami perbedaan, tidak mudah terprovokasi, dan tidak langsung menganggap orang lain salah hanya karena berbeda keyakinan.
#BeragamadanBeriman #Teologis #Islam #Sejarah




Post a Comment