Narasi tentang burung Ababil yang membawa batu dari neraka untuk melindungi Ka'bah sering dipahami secara literal sebagai bukti intervensi ilahi yang langsung dan konsisten. Namun, jika ditinjau secara historis, keyakinan tersebut patut dipertanyakan secara kritis.
Pada tahun 930 M (317 H), peristiwa penyerangan terhadap Makkah oleh Abu Tahir al-Qarmati menjadi fakta sejarah yang tidak terbantahkan. Dengan kekuatan militer yang relatif kecil, ia berhasil memasuki kota suci, melakukan pembantaian terhadap penduduk dan jamaah haji, serta merusak Ka'bah. Bahkan, Hajar Aswad dicabut dan dibawa ke al-Hasa (Bahrain), di mana batu tersebut disimpan selama lebih dari dua dekade sebelum akhirnya dikembalikan.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa Ka'bah tidak selalu berada dalam perlindungan yang tampak secara fisik atau langsung dari kehancuran. Tidak ada catatan historis mengenai intervensi supranatural seperti yang digambarkan dalam kisah Ababil pada momen krusial tersebut. Hal ini membuka ruang bagi pertanyaan: apakah kisah tersebut harus dipahami secara harfiah, simbolik, atau sebagai bagian dari konstruksi teologis tertentu?
Dengan demikian, alih-alih menerima narasi secara apa adanya, pendekatan yang lebih rasional menuntut pemisahan antara keyakinan teologis dan realitas historis. Fakta sejarah menunjukkan bahwa Ka'bah pernah mengalami kerusakan serius tanpa adanya perlindungan yang tampak sebagaimana dalam kisah tersebut.




Post a Comment