TERBENTUKNYA SUNI DAN SYIAH (Part-2)

Friday, March 6, 20260 comments

sumber

PERANG UNTA

Perang ini terjadi tahun 34 Hijriah atau tahun 656 Masehi. Disebut perang unta karena Aisyah memimpin peperangan diatas seekor unta. Inilah perang terbuka antara sesama saudara seiman, sama-sama muslim. Perang ini juga dikenal dengan sebutan perang Jamal. Dalam perang ini, lebih dari 10.000 muslim terbunuh di kedua belah pihak.

Setelah pemakaman korban perang, Ali bertanya kepada Aisyah; “Wahai Ummul mu’minin, pihak manakah yang akan masuk surga?” Aisyah tahu kemana arah pertanyaan Ali, tapi ia menghindar dan pura-pura lupa tentang apa yang dikatakan oleh almarhum suaminya (Muhammad), yang mengatakan; “Jika dua orang muslim saling memerangi dengan pedang, maka yang membunuh dan yang terbunuh keduanya akan masuk api neraka.” [Sahih al-Bukhari, no 6875, sunnah.com, dan Sahih Muslim, book 41, no 6898, hadith collection].

PERANG SIFFIN

Terjadi pada bulan Mei – Juli 657 M, di sungai Efrat. Perang ini antara kelompok Ali bin Abu Thalib melawan Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Mu’awiyah ditunjuk sebagai guberner Damaskus oleh Usman. Setelah kematian Usman, ia melancarkan perang berdarah melawan Ali, untuk memperebutkan kursi kekhalifahan. Dikabarkan lebih dari 15.000 orang terbunuh dalam perang ini.

Pada tanggal 19 Ramadan 661 M, saat Ali sedang sholat di masjid kufa, ia dibacok dengan pedang beracun oleh Abdurrahman bin Muljam seorang anggota Kharajits. Dua hari kemudian, tanggal 21 Ramadan 661, Ali meniggal dunia. Sebelum meninggal dikabarkan Ali berpesan kepada anaknya untuk mengampuni orang yang membunuhnya (entah ini benar atau tidak). Tapi Hassan membalas kematian ayahnya dengan menebas Abdurrahman dengan sekali tebasan pedang untuk menggenapi hukum Qisas.

Menurut Al-Syeikh Al-Mufid, Ali tidak ingin makamnya dirusak oleh musuh-musuhnya sehingga ia meminta dimakamkan secara rahasia. Namun makam rahasia Ali kemudian di ketahui dan dibuka oleh khalifah dinasti Abbasiyah, Imam Ja’far As-Sadiq. Makam Ali ditemukan di masjid, Najaf-Irak.

PERANG KARBALA

Perang ini terjadi pada tanggal 10 Oktober 680 M, di kota Karbala yang terletak 60 mil barat daya Baghdad. Bererapa tahun setelah perang Siffin, anak-anak Ali yaitu Hassan dan Hussein bertemu dengan Yazid anak Mu’awiyah dalam pertempuran sengit di kota Karbala, dimana lebih dari 15.000 muslim terbunuh. Hussein bin Ali dipengg4l kepalanya dan kepalanya diarak di atas ujung tombak. istri dan anak-anaknya (cucu dan cicit Muhammad) dibvnvh oleh keturunan bani Umayyah, dan Yazid adalah cucu dari Abu Sufyan.

 Istri pertama Mu’awiyah, Masyum (ibunda Yazid) adalah seorang Kristen dan ia sangat bertoleransi terhadap orang-orang Kristen sehingga banyak muslim yang menganggap bahwa pajak yang dikenakan terhadap mereka “tidak adil” (Note: tentu saja tidak adil, mana ada keadilan bagi sebuah pemerintahan jika pajak penduduk dikenakan atas dasar agama dan keyakinannya..!).

Disamping tanah Arab tanduns, orang-orang Arab khususnya muslim tidak suka bertani dan bercocok tanam, mereka bergantung sepenuhnya kepada hasil jarahan dan jizyah untuk kelangsungan hidup mereka. Di bawah pemerintahan Mu’awiyah, populasi non-muslim diberi otonomi. Masalah peradilan mereka ditangani sesuai dengan hukum mereka sendiri dan oleh pemimpin agama sendiri atau orang yang mereka tunjuk.

Barangkali ini satu-satunya waktu di bawah kekhalifahan Islam dimana hubungan antara muslim dan non-muslim terutama Kristen setara di jajirah Arabia. Ini bukan karena Mu’awiyah percaya bahwa Islam itu toleran, tapi sebaliknya. Bani Umayyah sering terlibat perang dengan Bizantium Kristen tanpa mempedulikan garis pertahanan belakang mereka di Suriah, yang sebagian besar penduduknya tetap menganut Kristen seperti banyak bagian lain dari kekaisaran tersebut.

Posisi penting dipegang oleh orang-orang Kristen, beberapa di antaranya berasal dari keluarga yang pernah bertugas dalam pemerintahan Bizantium. Mempekerjakan orang Kristen adalah bagian dari kebijakan yang lebih luas terhadap toleransi beragama yang diperlukan karena besarnya populasi Kristen di propinsi yang ditaklukkan, terutama di Suriah. Kebijakan ini juga mendongkrak popularitasnya dan mengukuhkan Suriah sebagai basis kekuasaannya.

Dengan apa yang kita ketahui tentang Mu’awiyah dan Yazid, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para revisionis dapat dijawab dengan mudah. Yang menjadi perhatian utama Mu’awiyah adalah membangun kekuasaanya. ia tak peduli bahwa sebagian besar rakyatnya justru non-muslim.

Dengan mempercayakan administrasi wilayahnya kepada orang Kristen, jelas bahwa ia lebih percaya kepada mereka daripada kepada muslim, yang kesetiaannya bisa beralih ke Ali dan pesaing lainnya atas kekhalifahan tersebut. Namun demikian ia memerlukan kaum muslim untuk kepentingan ekspansi dinastinya. Jadi apakah suatu kesalahan bila kita berasumsi bahwa kaum muslim awal bukan dimotivasi oleh iman..?

Selain para pendamping Muhammad yang telah menghadiri ceramah-ceramahnya di Madinah, muslim lainnya masuk Islam karena tergiur harta jarahan dan tawanan wanita. Ketika orang-orang Quraish-Mekah akhirnya masuk Islam secara massal karena dibawah serangan (Fathu Mekah). Mereka sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang Islam dan mereka juga tidak dipaksa untuk menjalankannya akidah dan ritualnya.

Penguasa kedua dinasti Umayyad, yakni Yazid, dibesarkan di gurun bersama paman-pamannya dari bani Kilab yang beragama Kristen. Alaili mengatakan: “Kemungkinan atau hampir dapat dipastikan bahwa Yazid tidak dididik secara Islam; dengan kata lain, ketidakpeduliannya dipandang benar-benar tidak Islami dan tak seorangpun yang menganggap bahwa semua tindakannya itu ada hubungannya dengan nilai-nilai atau kepercayaan Islam sama sekali. Sebagai contoh, dikatakan bahwa ia memiliki anjing dan senang bermain-main dengan mereka. Tidak ada muslim kaffah yang akan melakukan hal tersebut. [Sammawal Maani fi Samma waz Zaat, hal. 60]

Setelah Yazid mendengar bahwa gubernurnya, yakni Ibn Ziyad, telah membunuh anak dari Ali, dan cucu Muhammad, di Karbala, ia juga memerintahkan para pendukungnya untuk membunuh para sahabat Muhammad di Madinah, selama tiga hari berturut-turut. Yazid begitu bersuka-ria dan mendeklamasikan bait berikut;

Kalau saja leluhurku yang tewas di Badr masih hidup dan melihat bagaimana lawan-lawan mereka (keluarga Muhammad) ditindas, mereka pasti berteriak dalam sukacita;

Oh Yazid! Kiranya tanganmu tak pernah lelah! Kami telah membunuh pemimpin mereka dan dengan demikian telah membalas dendam atas Badr

Dan aku tidak pantas disebut keturunan

para pejuang Perang Parit (Khandaq)

jika aku gagal membalas dendam

kepada Muhammad dan sanak keluarganya.


(Bersambung......)

Share this article :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | wartaONETV | wartaONETV Blog
Copyright © 2011. WARTAONETV - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by WartaONETV Template
Proudly powered by Blogger Privacy Police