Ibn Zubayr telah memperoleh kesetiaan para muslim di daerah Arab, Irak, dan Iran yang telah terkendali sehingga menjadi ancaman bagi bani Umayyah.
Islam dan Allah, selalu digunakan sebagai alat untuk menggalang dukungan politik. Di setiap konflik di antara kaum muslim, para pemimpinnya menuduh lawan mereka sebagai pihak yang sesat dan menggambarkan dirinya sendiri sebagai pembela Islam. Semua perang adalah jihad, sekalipun dilancarkan melawan kaum sesama muslim.
Para penguasa dari bani Umayyah yang justru memusuhi Ali dan garis keturunan Muhammad sesungguhnya tidak tertarik kepada Islam sebagai agama, hingga kekuasaan mereka ditentang. Akhirnya mereka berpura-pura, seolah-olah mereka adalah jawara dalam membela Islam.
Pemimpin muslim pertama yang mencetak koin dengan tulisan “Muhammad utusan Allah” adalah Ibn Zubayr. Maka Abdul Malik harus bisa mengungguli dalam hal pengabdiannya kepada Islam, kalau tidak, seperti pendahulunya ia akan dituduh bukan muslim sejati. Jejak-jejak peninggalan kekuasaan Abdul Malik pada akhir abad ke-7 terekam dari Mesir sampai ke ‘Dome of the Rock’ di negeri Syam (Jerusalem) yang sekarang berdiri masjid berkubah emas (Masjid Al-Aqsa).
PERANG ZAB
Perang ini terjadi pada tanggal 25 Januari 750 M di sungai Zab-Irak, antara dinasti Abbasiyah melawan dinasti Umayyah. Dinasti Abbasiyah adalah kaum yang berafiliasi kepada Ibnu Abbas (paman Muhammad). Mereka melakukan kudeta, mengambil alih kekuasaan dari kaum Umayyah. Mereka tidak akan pernah melupakan atas apa yang telah dilakukan kaum Umayyah terhadap cucu-cucu Muhammad dan keluarga mereka sendiri, sehingga mereka memutuskan untuk melakukan balas dendam.
Sang pangeran dari dinasti Abbasiyah yakni Abu Al-Abbas membunuh keturunan Umayyah, termasuk kaum wanitanya dan anak-anaknya yang masih remaja dan balita. Bahkan kuburan mereka tidak aman karena digali kembali. Jasad mereka dicemari dan beberapa bagiannya diberikan kepada anjing. Dalam kurun waktu lebih kurang 50 tahun, cucu-cucu Muhammad sendiri menjadi korban ideologi dan filosofi kekerasan.
Setelah itu datang pula seorang khalifah Abbasiyah bernama Al-Muhtadi Billah. Ia ingin mengikuti jejak Umar bin Abdul Aziz. Ia menyeru kebajikan dan melarang kemungkaran. Ia juga seorang yang asketis dan gemar bergaul dengan ulama. Ia pun menjunjung tinggi karir para fuqaha, tahajud malam hari, dan berlama-lama waktu salat.
Akan tetapi, seperti dilaporkan Al-Mas’udi, nasib Al-Muhtadi Billah berakhir tragis; Langkah-langkahnya yang vulgar terasa berat baik oleh kalangan jelata maupun elitnya. Masa kepemimpinannya terasa begitu lama. Mereka bosan dengan hari-hari yang mereka jalani. Lalu mereka melakukan tipu muslihat sampai ia terbunuh.
Ketika Al-Muhtadi ditangkap, mereka mengejeknya: “Apakah anda ingin membawa masyarakat dengan taktik orang-orang besar yang tidak mereka kenal?” Al-Muhtadi menjawab: “Aku hanya ingin membawa mereka ke jalan Rasulullah, ahlul baitnya, dan para al-Khulafa’ al-Rasyidun.”
Namun mereka kembali menghardik: “Rasulullah berada di antara kaum yang menjauhi dunia dan sangat menginginkan akhirat, seperti Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, dan lainnya. Tapi kaummu terdiri dari orang Turki, Khazri, Maghribi, dan non-Arab lainnya. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka persiapkan untuk bekal akhirat nanti. Tujuan utama mereka tak lain menguasai dunia. Bagaimana mungkin engkau membawa mereka ke jalan yang engkau katakan jelas itu?”
[Ibn Katsir, al-Bidayah wan Nihayah, jilid IV, hal. 186].
Karena itu, mungkin pengikut Ali akan berkata; "Janganlah bersedih wahai Ali. Masamu tidak lebih baik daripada zaman sesudahmu. Cukuplah anda ketahui bahwa masamu adalah fase pemisah sekaligus jembatan menuju masa sesudahnya."
Sejak itulah khilafah tidak lagi berhubungan dengan Islam kecuali pada nama. Kita pun tidak dapat lagi mencium hubungan itu kecuali selintas bagai kilat. Ini adalah urusan dunia dan kekuasaan. Perkara kepemimpinan politik dan kesemena-menaan. Berbagai taktik untuk mengelabui dengan mengatasnamakan agama dan Tuhan muncul berbagai rupa.
Mungkin kalian tidak dapat menangkap rupa-rupanya dengan jelas. Sebab, yang sampai kepada kalian hanyalah sebagian kecil dari fakta yang kisahnya sudah disaring, dikurangi, dan ditutupi.
Muhammad-> Abu Bakar-> Umar-> Usman. Di bawah kekhalifahan Usman inilah awal munculnya dua kubu islam. Satu kubu berafiliasi kepada keturunan Umayyah yaitu Usman -> Mu'awiyah -> dan Yazid. Yang sekarang menjadi golongan Suni/Ahlussunnah.
Sedangkan kubu islam lainnya berafiliasi kepada Syaidina Ali yang merupakan garis keturunan Hasyim yaitu Muhammad-> Ali bin Abu Thallib-> Ibnu Abbas. Yang sekarang menjadi golongan Syiah.
Sejak tahun 660 M samppai sekarang, Islam terpecah menjadi dua kelompok golongan utama, yaitu;
1. Kelompok SYIAH;
Adalah kelompok yang berafiliasi kepada khalifah Ali bin Abu Thallib. Mereka menggunakan Al-Qur’an dan mushaf Ali sebagai kitab sucinya, yaitu kumpulan ayat-ayat Qur’an yang dicatat dan dikumpulkan oleh Ali. Mushaf Ali ini tidak diakui oleh kelompok Usmani (Sunni).
2. Kelompok SUNNI atau AHLUSSUNNAH;
Adalah kelompok yang berafiliasi kepada khalifah Usman bin Affan dan dinasti Umayyah, mereka tidak mengakui mushaf Ali dan mushaf Abdullah bin Mas’ud yang menyatakan Al-Fatihah bukan firman allah tapi do’a Muhammad ketika salah satu anaknya menikah. Mereka hanya mengakui dan menggunakan Al-Qur’an yang dibukukan oleh Usman dan Zayd bin Thabit sebagai kitab suci final, dan mereka juga mengklaim Al-Qur’an versi Usman ini masternya ada di Lauh Mahfuz.
Di Indonesia kelompok ini menyebut diri mereka sebagai kelompok Ahlussunnah.




Post a Comment