Kalau kita simak periwayatan sirah atau hadis tantang islam pasca Muhammad, sepertinya tidak ada periwayatan tentang perselisihan atau perlawanan Ali atas ketidak terpilihan dia menjadi khalifah.
Sesaat setelah Muhammad meninggal kaum anshar sibuk memilih pemimpin islam pengganti Muhammad. Menurut mereka kaum Anshar lah yang lebih pantas menjadi khalifah, karena islam berkembang dan kuat oleh karena mereka, sementara selama 13 tahun di Mekah, Muhammad gagal..! Calon terkuatnya dari kaum Anshar adalah Sa'ad bin Ubadah.
Mendapati informasi ini, maka kaum Muhajirin panik, mereka merasa lebih berhak menjadi khalifah pengganti Muhammad, karena mereka kaum Quraish dari bani Hasyim yang sama dengan Muhammad. Kemudian Abu Bakar dan Umar langsung menuju bangsal Bani Saidah (tempat kaum Anhar berkumpul). Namun Ali dikabarkan tidak ikut, sedangkan mayat Muhammad belum juga dikubur.
Di bangsal bani Saidah terjadi keributan. Menurut sirah Sa'ad bin Ubadah (calon khalifah dari kaum Anshar) saat itu mati dibunuh. Padahal Mayat Muhammad belum juga dikubur tapi kaum muslim sudah bertikai dan terjadi pembunuhan demi menjadi pemimpin atas nama agama...
Sirah Nabawiyah-Ibnu Hisyam, jilid 2, hal 650-651:
Setelah itu terjadi kegaduhan, suara-suara semakin meninggi dan aku (Ibnu Abbas) takut terjadi perkelahian. Aku segera berkata, “Hai Abu Bakar, bentangkan tanganmu.” Abu Bakar membentangkan tangan, kemudian aku membaiatnya diikuti kaum Muhajirin. Kami meloncat kepada Sa’ad bin Ubadah, tiba-tiba seseorang dari kaum Anshar berkata, “Kalian telah membunuh Sa’ad bin Ubadah.” Aku berkata; “Allah yang membunuh Sa’ad bin Ubadah!”
Ali tidak menunjukkan penolakan atas terpilihnya Abu Bakar sebagai khalifah, hingga terjadinya konflik antara Fatimah (istri ali dan satu-satunya anak Muhammad yang masih hidup) dengan Abu Bakar yang disebabkan masalah harta warisan Muhammad yang seharusnya menjadi hak Fatimah, tapi dikuasai oleh Abu Bakar.
Konflik antara Fatimah dan kelompok Abu Bakar ini berbuntut Fatimah diserang di rumahnya oleh Abu Bakar dan kelompoknya. Penyerangan menyebabkan Fatimah dipersekusi, dianiaya, dan keguguran. Akhirnya Fatimah meninggal 6 bulan setelah kematuan ayahnya, Muhammad.
Setelah terpilihnya Usman bin Affan sebagai khalifah ke-3, maka bani Umayyah sebagai musuh dalam selimutnya bani Hasyim semakin berada di atas angin, karena Usman berasal dari bani Umayyah. Usman sengaja berbuat nepotis agar bani Umayyah menguasai kepemimpinan islam sampai ke pelosok-pelosok daerah kekuasaan mereka. bahkan Usman menempatkan gubernur-gubernur pilihannya yang berasal dari bani Umayyah di tiap daerah.
Terbunuhnya Usman menyebabkan bani Hasyim kembali mendapat panggung kekuasaan, sehingga terpilih lah Ali menjadi khalifah ke-4. Tapi bani Umayyah tidak tinggal diam. Ali berusaha merombak system yang ditinggalkan Usman, namun kekuasaan bani Umayyah sudah menggurita.
Tapi di dalam kelompok Ali juga ada pemberontak, seperti duri dalam daging, yaitu kelompok yang disebut "Kharajits". Kelompok ini menentang dan melakukan pemberontakan terhadap Ali. Sehingga terjadilah perang Nahrawan, dan bani Umayyah yang saat itu dipimpin oleh Mu'awiyah berada di pihak Kharajits.
Muawiyah adalah anak dari Abu Sufyan, yang sanak keluarganya telah banyak dibunuh oleh para sahabat Muhammad. Kita tahu bahwa Abu Sufyan adalah musuh bebuyutan Muhammad sampai ia dipaksa menyerah dan menerima Islam ketika Muhammad menyerang Mekah. Saat itu Abu Sufyan tidak punya pilihan lain kecuali mangakui Islam atau mati.
Apakah Abu Sufyan bisa menjadi pemeluk yang tulus di bawah ancaman? Pasti tidak..! Abu Sufyan sebenarnya adalah paman dari Usman bin Affan dan anak-anaknya mendapat kekuasaan ketika Usman menjadi khalifah. Mereka menggunakan Islam untuk bertahan dalam kekuasaan, bukan karena mereka beriman dan takwa..!
Di masa kekhalifahan Ali, ia ingin membabat semua yang dianggap tidak benar, termasuk kepada Ibnu Abbas... Ali mendapatkan surat dari pengurus Baitul Mal Bashrah. Surat itu menceritakan; “tangan kananmu dan juga sepupumu yaitu Ibnu Abbas telah mengambil apa yang bukan menjadi haknya tanpa sepengetahuanmu.” [Tarikh aT-Tabari: Muassatul I’lam, Vol. IV, hal. 108-109].
Kemudian Ali mengirim surat kepada Ibnu Abbas:
“Saya tidak kuasa meninggalkan perkaramu sampai engkau memberitahuku apa yang kau ambil dari jizyah; dan engkau kemanakan harta itu. Bertakwalah kepada Allah dalam perkara yang aku mandatkan kepadamu karena aku memintamu untuk menjaganya. Harta benda yang mungkin menggiurkanmu amatlah kecil, tapi konsekuensi dari itu amatlah besar. Wassalam.”
Masa pemerintahannya Ali mampu bertahan sampai kurang-lebih lima tahun. Tetapi, ia lupa bertanya; Apakah ia telah ditelikung, dan orang-orang justru menaati Muawiyah? Pertanyaan ini, meski terasa pahit, akhirnya terjawab juga. Benar, Ali memang sudah tidak didengar lagi, sementara saat itu justru Muawiyah benar-benar sedang menggenggam dunia islam.
Apa yang menjadi watak anda maka itu akan sangat menentukan nasib anda kemudian. Orang-orang ternyata lebih merasa dekat kepada Muawiyah. Mereka benar-benar tidak sabar lagi mengikuti jejak Ali yang kembali mendorong roda sejarah ke belakang, yaitu ke zaman nabi. Akan tetapi, roda sejarah tidak lagi ingin berputar ke arah yang tak dikehendaki umatnya.
Kita selama ini banyak membaca tentang fikih, tauhid, ilmu tafsir, dan ketaatan dari tiga orang Abdullah ini... Yaitu Abdullah ibnu Abbas, Abdullah ibnu Umar, dan Abdullah ibnu Ja’far bin Abu Thalib. Tetapi, dengan mengungkap fakta ini, kita sebenarnya lebih santun daripada para sahabat nabi sendiri.
Kita bisa mengatakan kepada Ali, engkau benar jika apa yang engkau katakan benar dan itu benar-benar terjadi. Tetapi, kita perlu pula bertanya kepadanya yang hidup sezaman dengan Rasulullah, kepada para khalifah dan para sahabat: "Apakah menguasai harta orang lain itu halal..?"
Masih ingat kisah tentang Aisyah yang dituduh berselingkuh dengan Shafwan. Dimana saat itu Ali mengusulkan kepada Muhammad agar menghukum Aisyah..? Sepertinya hal itu mengakibatkan terjadinya perselisihan atau ketidak sukaan antara Aisyah dan Ali. Kemudian Aisyah membentuk aliansi dengan Muawiyah melawan Ali, dan terjadilah Perang Jamal atau Perang Unta, dimana Aisyah memimpin peperangan itu melawan Ali.Sumber
(Bersambung.......)




Post a Comment